Saatnya Mengendalikan Nafsu Gaya Belanja

Tidak ada komentar 398 views

Petinju legendaris, Mike Tyson, pernah memiliki kekayaan senilai 300 juta Dolar AS atau Rp 3 triliun lebih. Sekali tampil di ring tinju saja dia bisa mendapatkan bayaran hingga 30 juta Dolar AS (sekitar Rp 300 miliar).

Dari uangnya yang sangat banyak itu, dia membeli rumah mewah, mobil super mahal, dan benda-benda mahal lainnya. Pada akhir tahun 2002, Tyson membeli gelang emas 174 ribu Dolar AS (sekitar Rp 1,7 miliar). Bahkan “si leher beton” itu juga memiliki seekor harimau Bengal (India) yang tentu saja dia beli dengan harga yang sangat mahal.

Bagi orang zaman sekarang, sosok dengan gaya hidup seperti itu mungkin banyak menjadi impian. Kaya raya dan bisa membeli apa saja yang diinginkan. Rasanya bangga bisa memamerkan belanjaan barang-barang mewah nan mahal; bepergian dengan kendaraan berharga miliaran; berfoya-foya kesana-kemari.

Namun bagi orang yang menjalani hidup benar-benar dengan nilai iman, tentu cara hidup boros itu bukanlah pilihan, bahkan harus dijauhi. Karena harta kekayaan yang kita miliki, pada hakikatnya titipan Ilahi. Kita harus mengendalikan penggunaannya sesuai dengan petunjuk-Nya. Semua akan dimintai pertanggungjawaban oleh-Nya.

Kita di dunia ini seperti musafir. Kampung kita yang sebenarnya adalah akhirat. Di saat maut menjemput, barang mewah, kendaraan mahal, rumah besar, semuanya akan ditinggal. Setiap kita akan berpindah ke lubang kubur yang sempit dan gelap, berdinding dan berlantai tanah, hanya berpakaian dua helai kain kafan. Itulah akhir kehidupan dunia yang fana.

Allah Subhanahu Wata’ala berfirman:

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ
حَتَّى زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ

“Bermegahan-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk dalam kubur.” (at-Takatsur [102]: 1-2).

Jangan Boros, Berhematlah

Betapa pun besarnya penghasilan, cepat atau lambat gaya hidup boros hanya akan menjerumuskan kita dalam kemiskinan. Karena seorang pemboros, daftar belanja yang harus dipenuhi jauh lebih besar daripada penghasilannya. Meski penghasilannya sebulan satu milyar, jika keinginan belanjanya dua milyar, pada hakikatnya ia telah miskin. Jika dia tak segera mengendalikan gaya hidupnya itu, ia akan benar- benar jatuh miskin.

Itulah yang dialami oleh Mike Tyson. Kekayaan 3 triliun itu akhirnya ludes karena boros. Akibat gaya hidup bermewahan itu, delapan bulan kemudian, dia menyatakan bangkrut, bahkan memiliki utang hingga 23 juta dolar AS (sekitar Rp 230 miliar).

Jika orang berpenghasilan miliaran saja bisa bangkrut, apatah lagi orang yang berpenghasilan pas-pasan. Jika tak hemat, akan terjadi fenomena “besar pasak daripada tiang”.

Penghasilan yang minim memang suatu persoalan. Tetapi hidup boros, kian menjerembabkan dalam persoalan yang lebih dalam. Bahkan, dinaikkannya gaji tidak akan pernah cukup jika hobi boros masih terus dilakukan.

Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas mengatakan, tabdzir (pemborosan) adalah membelanjakan sesuatu bukan pada jalan yang benar. Karena itu gaya hidup boros tidak harus dalam bentuk mengeluarkan uang berjuta- juta. Belanja puluhan ribu saja sudah bisa terbilang boros jika digunakan pada kemubadziran.

Qatadah mengatakan, “Yang namanya tabdzir (pemborosan) adalah mengeluarkan nafkah dalam berbuat maksiat pada Allah, pada jalan yang keliru, dan pada jalan untuk berbuat kerusakan.” (Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 8: 474-475).

Bila gaya hidup boros ini selalu dituruti, seseorang bisa terjerembab ke dalam kemaksiatan. Pertama ia telah menggunakan hartanya untuk menuruti keinginan nafsunya berfoya-foya. Kemudian dengan boros itu, harta titipan Tuhan dirusaknya dan dihabiskannya untuk hal-hal yang tidak semestinya, bahkan sering kali menjurus ke yang haram.

Umar ra berkata, “Saya masuk ke dalam rumah Nabi saw, ketika beliau sedang bertelekan pada sebuah tikar kasar sehingga berbekas pada tubuhnya. Aku pun melihat perabotannya, kulihat beliau hanya memiliki segenggam tepung sebanyak 1 sha’.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

Dengan berhemat, separuh persoalan telah terselesaikan. Karena aspek pengeluaran yang terkendali, akan banyak menyelamatkan orang dari kerumitan yang tidak perlu terjadi. Hidupnya lebih tenang karena fokus kepada kebutuhan yang penting dan tidak diperbudak oleh keinginan.

Saat berbelanja senantiasa terkendali dan berpikir sehat mana yang benar- benar diperlukan. Dengan begitu seorang yang berhemat akan bisa hidup cukup, bahkan bisa menabung, meski penghasilannya tak banyak.

Jadi agar seseorang bisa hidup dengan baik, bukan hanya harus meningkatkan penghasilan tetapi juga harus berhemat terhadap pengeluaran yang tidak penting. Saat belanja harus bisa meletakkan prioritas, mana yang perlu dibeli dan mana yang tidak perlu dibeli. Mana yang harus keluar uang, mana yang harus ditahan.

Jangan Kikir

Dalam membelanjakan harta, kita diperintahkan untuk bersikap hemat dan sederhana. Tidak berbelanja terlalu boros dan bermewahan. Namun sebaliknya juga tidak bakhil (pelit/kikir) yang justru mempersulit diri. Menurut Al Ghazali, menahan harta padahal semestinya harus dikeluarkan termasuk kikir. Sedangkan mengeluarkan harta, padahal semestinya harus ditahan adalah pemborosan.

Hemat dan kikir sepertinya mirip, yaitu sama-sama tidak mudah menghambur- hamburkan harta. Tetapi sebenarnya keduanya jauh berbeda. Perbedaannya adalah pada orientasinya.

Bila sesuatu itu memang semestinya dikeluarkan, seperti zakat, biaya pendidikan anak, seorang yang hemat tidak akan segan mengeluarkan uangnya. Bahkan mengutamakan agar secepatnya tertunai, karena ia berhemat memang untuk menunaikan kewajibannya itu. Tetapi seorang yang kikir meski tahu hal itu wajib dan musti dikeluarkan, ia tetap segan mengeluarkan uangnya.

Orang hemat mengendalikan uang. Sedangkan orang pelit dikendalikan uang. Kecintaan pada harta dunia telah menjerat dirinya. Janganlah diri ini seperti Qarun yang karena kikir dan tak mau berzakat akhirnya ditenggelamkan ke tanah beserta harta bendanya. Na’udzubillah min dzalik..

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam, meski hemat, tetapi memiliki kuda pilihan. Kalau zaman sekarang, kuda yang dimiliki Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam tersebut ibarat kendaraan berkelas premium, bukan kendaraan murahan. Tetapi bukan berarti Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassallam boros, karena kuda itu untuk kendaraan perang, bukan untuk kemewahan. Jadi benar-benar penting dan bermanfaat untuk menunaikan kewajiban.

Beliau sangat sederhana dalam penampilan, tetapi dalam sedekah dan membantu kebutuhan sesama sangat dermawan. Orang yang dermawan dicintai Allah, sedang orang yang kikir dibenci-Nya.
Kita mesti terus memberikan pencerahan pada diri ini, bahwa harta adalah titipan yang harus disyukuri dengan membelanjakannya di jalan Ilahi. Kita berhemat bukan karena cinta harta, tetapi sebagai rasa tanggung jawab menjaga amanah dari Allah. Kita berhemat untuk tidak mengeluarkan sembarangan; bukan untuk ditimbun, tetapi agar lebih banyak harta yang disisihkan untuk sedekah membantu sesama.

Seorang yang beriman akan menggunakan hartanya sebesar-besarnya untuk mendekat kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Harta yang disimpan, akan ditinggalkan. Dan harta yang disedekahkan di jalan Ilahi, menjadi bekal menuju kampung abadi. Kita semua milik Allah Subhanahu Wata’ala dan kepada-Nya kita kembali. Wallahu a’lam bis shawab.*/artikel pernah dimuat di Suara Hidayatullah, Januari 2015

author
Tidak ada Respon

Tinggalkan pesan "Saatnya Mengendalikan Nafsu Gaya Belanja"